majidsyahreza89

KINERJA HEWAN DI LINGKUNGANNYA DENGAN MENENTUKAN POLA AKTIVITAS DAN JARAK EDAR SERTA LUAS DAERAH EDAR HARIAN HEWAN

Posted on: Januari 16, 2012

KINERJA HEWAN DI LINGKUNGANNYA DENGAN MENENTUKAN POLA AKTIVITAS DAN JARAK EDAR SERTA LUAS DAERAH EDAR HARIAN HEWAN

 “Mengamati Aktifitas Harian Bekicot (Achatina fulica) Dengan Menganalisa Korelasi Antara Berat Badan, Panjang Cangkang, Jarak Edar, Suhu dan Kelembapan Pada Daerah Ternaung Dan Terdedah”

 

LAPORAN PRAKTIKUM

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur

Mata Kuliah             :  Ekologi

Dosen Pengampu     :  Djohar Maknun

 

 

Disusun oleh:

Abdul Syukur

Diki Hafid Firdaus

Fariz Marzuki

Heni Risnawati

Nia Daniah

Resti Wahyu Danaswari

Venty Melinda

 

Fakultas Tarbiyah / Jurusan IPA-Biologi / B / V

INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI

CIREBON

2010

  1. A.      Tujuan
  • Untuk mengetahui bagaimana pola aktivitas harian hewan itu sehubungan dengan pola fluktuasi dari perubahan kondisi faktor-faktor lingkungan dan habitat yang ditempatinya
  • Untuk mengetahui dan membuat estimasi mengenai berapa jauh jarak yang ditempuh hewan sehari-harinya dalam melakukan berbagai aktivitas hidupnya.
  • Untuk mengetahui luas daerah edar, sehingga tubuh hewan yang kita amati bervariasi ukurannya (berat, panjang, cangkang) tubuhnya.
  • Untuk mengetahui apakah panjang jarak luas daerah edar harian berkorelasi dengan ukuran tubuhnya Untuk mengetahui apakah panjang jarak luas daerah edar harian berkorelasi dengan ukuran tubuhnya. Praktikum ini merupakan suatu latihan dan contoh dalam melakukan penelitian ekologi mengenai suatu populasi yang memerlukan pengamatan secara berkala tiap interval waktu dari dan dalam suatu rentang waktu yang relatif panjang (dalam hal ini 24 jam).

 

  1. B.       Dasar Teori

Bekicot (Achatina fulica B.) merupakan hewan yang paling banyak ditemukan diberbagai daerah di Indonesia, meskipun demikian hewan ini bukan spesies pribumi Indonesia melainkan merupakan pendatang dari benua Afrika yang telah menetap ± 50 tahun lamanya. Bekicot bersifat hermaprodit namun perkawinan tidak dapat dilakukan oleh satu individu saja melainkan membutuhkan individu lain pada proses kawinnya.

Pada waktu kopulasi penis masing-masing individu yang berwarna keputih-putihan dan lembab, akan masuk ke dalam lubang genital individu pasangan kawinnya. Bekicot dikenal sebagai hewan nocturnal dan herbivora, karena kebiasaan makannya itu, sehingga bekicot digolongkan dalam sebagai kelompok hewan yang berpotensi sebagai hama bagi kebun sayuran dan bunga-bungaan. Menurut Naryo Sadhori (1997: 6) bekicot termasuk dalam golongan hewan lunak dan biasanya disebut Molusca. Anggota bekicot ini sangat banyak hidup di bebagai alam (darat, air tawar, air payau dan di laut) misalnya cumi-cumi, gurita dan kerang-kerangan. Bekicot termasuk ke dalam kelas Gastropoda atau berkaki perut.

Di Indonesia dikenal ada dua jenis (spesies) bekicot yaitu Achatina fulicad dan Achatina fariegata. Secara garis besar tubuh bekicot terdiri atas dua bagian yaitu cangkang bekicot; berfungsi sebagai alat untuk melindungi tubuhnya dari mangsanya. Cangkang bekicot dewasa dapat mencapai 7,5 – 11,5 cm diukur dari ujung cangkang sampai kedasar cangkang. Achatina fulica mempunyai cangkang bergaris-garis semar, ramping dan runcing, sedangkan Achatina fariegata memiliki cangkang bergaris tebal, lebih gemuk, dan membulat, dan badan bekicot; yang sederhana terdiri atas kepala dan peru

 

  1. Lubang Kelamin
  2. Mulut
  3. Mata
  4. Kelenjar ludah
  5. Anus
  6. Ginjal

 

Keterangan:

  1. Hati
  2. Usus
  3. Kelenjar Abdomen
  4. Kelenjar Mukosa
  5. Vagina
  6. Penis

Dalam rentang waktu sehari (24 jam) dan dari hari kehari, hewan menjalani hidupnya dengan melakukan berbagai aktivitas. Pada hewan yang memiliki mobilitas yang tinggi dalam pergerakan mencari makan untuk mendapatkan energy yang diperlukannya. Pada hewan dewasa seksual, aktivitas hariannya mencakup aktivitas reproduksi, seperti mencari pasangan dan berkopulasi, area yang dijelajahi hewan untuk aktivitas-aktivitas tersebut dikenal dengan daerah edar. Setiap hewan yang keluar dari sarang atau tempat perlindungan akan terdedah pada waktu hewan lain menjadi musuhnya (predator) dan kondisi lingkungan yang tidak baik, maka dalam kegiatan keseharian itu, tercakup pula pergerakan mencari tempat berlindung, agar terhindar dari bahaya yang mengancam kesintasannya.

Dalam mengadakan berbagai aktivitas tersebut hewan pun memerlukan istirahat dan tidur (inaktif). Dalam kurun waktu sehari dan dari hari ke hari, berbagai faktor dan kondisi lingkungan seperti suhu, cuaca dan iklim mengalami perubahan-perubahan serta memperlihatkan fluktuasi baik harian maupun musiman. Faktor suhu misalnya setiap pagi relatif rendah dan makin siang makin naik hingga mencapai suhu maksimum pada hari itu, dan kemudian akan berangsur turun pada sore hari dan malam harinya hingga mencapai suhu minimum. Dari berbagai variasi kondisi suhu itu sebagian merupakan kondisi yang baik atau sangat baik(Preferendum), namun ada juga yang tidak baik yang beroperasi sebagai faktor pembatas. Dalam kondisi suhu yang ekstrim yang mendekati batas-batas kisaran toleransinya, hewan tidak lagi melakukan aktivitas mencari makan dan lain sebagainya, melainkan dipusatkan pada upaya-upaya bertahan dan menjaga diri agar tetap sintas.

Setiap penelitian mengenai aktivitas atau perilaku, pertama-tama sekali memerlukan kriteria, untuk digunakan sebagai acuan dalam pengamatan. Salah satu langkah awal ialah menentukan kriteria untuk menentukan hewan aktif dan inaktif (aktivitas = 0).

Kriteria yang dipakai untuk bekicot dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

  • Aktif (A):  apabila bagian kepala bekicot terjulur keluar dari cangkangnya.

ü Berjalan-jalan (Ab): bergerak berpindah tempat

ü Berdiam diri disuatu tempat, tanpa melakukan aktivitas khusus (Ad).

ü Makan (Am): bila adanya fragmen daun ataupun serasah yang menempel pada bagian mulut dan adanya gerakan-gerakan radula.

ü Mengeluarkan defekasi (mengeluarkan tinja) baik sambil diam ditempat (Adf) atau sambil berjalan (Abf)

ü Berkopulasi (Ak): apabila adanya sepasang penis yang terentang di antara sisi bagian kepala dari kedua hewan yang sedang kawin.

ü Bertelur (Ao): posisi tubuh bekicot waktu mengeluarkan telur-telurnya mirip (Ad) tetapi dengan bagian kepala yang menjulur masuk kedalam serasah atau tanah, adakalanya tampak menyerupai posisi (Im) atau (Ik).

  • Inaktif; apabila bagian kepala hewan tersembunyi dalam cangkang.

ü Inaktif dengan seluruh bagian tubuh yang lunak dari hewan masuk ke dalam cangkang (Im)

ü Inaktif dengan bagian kakinya masih banyak terjulur keluar cangkang (Ik). Cangkang bekicot yang keras itu bersifat protektif, untuk melindungi bagian-bagian tubuh yang lunak dari factor lingkungan yang membahayakan, termasuk suhu yang terlalu tinggi dan kelembaban udara yang terlalu rendah. Oleh karena itu menghindari tubuh dari bahaya kekeringan dan kondisi panas dan kering, sebagian atau seluruh bagian tubuh yang lunak dan lembab itu akan masuk ke dalam cangkang

Perhatikan individu-individu ini pada siang hari, bagian ujung kaki yang masuk cangkang akan terlihat dilindungi oleh selapis efifragma. Pada musim kemarau yang sangat kering bagian mulut cangkang bekicot dilapisi oleh efifragma yang mengeras seperti lapisan tanduk. Dalam keadaan demikian hewan-hewan tersebut dikatakan sedang mengalami estivasi (tidur musim kering, sebanding dengan hibernasi pada hewan-hewan temperate di musim dingin). Cara menentukan pola aktivitas hewan ada bermacam-macam di dasarkan pada cara pengukuran akivitas. Dalam praktikum ini aktivitas populasi (individu dewasa)A c ha tin afulica dinyatakan dalam persentase jumlah individu yang melakukan suatu kategori aktivitas dari jumlah total individu-individu yang diamati, pada setiap waktu pengamatan. Dalam praktikum ini pengamatan dilakukan selama 24 jam dengan interval waktu 2 jam. Isikan data aktivitas hewan selama pengamatan pada lembar data.

  • Pengukuran Kondisi Faktor Lingkungan

Pengukuran faktor-faktor lingkungan fisis Achatina fulica di area pengamatan meliputi: suhu udara, kelembaban relative udara intensitas cahaya, suhu tanah, kelembaban tanah, cuaca dan iklim. Karena hewan-hewan menjelajahi berbagai bagian dari kebun maka pengukuran dilakukan di dua tempat, yaitu: bagian yang terdedah (daerah terbuka) dan bagian yang terlindung (daerah yang ternaung) tumbuh-tumbuhan. Suhu udara diukur 20 cm diatas permukaan tanah dan suhu tanah pada kedalaman sekitar 10 cm dengan menggunakan thermometer biasa untuk udara dan thermometer tanah.

Kelembaban relative udara diukur dengan hygrometer, pada posisi pengukuran suhu, dan kelembaban relatifnya dibaca dari tabel didasarkan pada pengukuran suhu basah dan kering. Intensitas cahaya diukur dengan luxmeter pada posisi ketinggian yang sama seperti suhu. Pengukuran kelembaban dan pH tanah dilakukan dengan menggunakan soil tester. Semua pengukuran dilakukan setiap 2 jam seperti no. 1 dan hasil pengukuran dicatat pada lembar data.

  • Pengukuran Jarak Edar (JE)

Cara mengukur jarak total yang ditempuh hewan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (jarak edar atau jarak edar jelajah) bermacam-macam. Semua didasarkan pada penelusuran posisi hewan pada waktu-waku tertentu berurutan dalam rentang 24 jam. Makin kecil selang waktu yang berurutan itu taksiran jaraknya makin baik. jika selang waktu (∆t = 0), jarak yang ditempuh merupakan jarak yang sebenarnya dengan mengukur jarak-jarak yang ditempuh setiap interval waktu 2 jam. Maka jumlah total jarak selama 24 jam akan merupakan suatua proksimasi yang lebih bersifat estimasi bawah (di bawah angka sebenarnya). Posisi hewan pada waktu pengamatan dapat ditentukan dengan dua cara, yang pertama dan lebih sederhana ialah menandainya dengan patok berlabel (No. Kode Hewan dan Jam Pengamatan).

Pada waktu pengamatan 2 jam setelah itu ditempatkan patok berlabel berikutnya, lalu jarak ukur jarak antara keduanya (dalam cm) dan begitu seterusnya hingga pengamatan terakhir. Angka-angka hasil pengukuran diisikan dalam lembar data Apabila.Pada waktu pengamatan, individu tertentu tidak dapat ditemukan selama ½ jam sejak pengamatan dimulai sebaiknya pencarian dihentikan. Ternyata individu yang hilang tersebut di atas ditemukan kembali pada waktu-waktu pengamatan berikutnya, maka pengukuran jarak tempuh per 2 jam dapat diteruskan lagi (untuk perhitungan rata-rata jarak tempuh per 2 jam). Ada individu yang ditemukan di atas tanah (pada pohon dan lain-lain), pengukuran dilakukan pada posisi semula ke pangkal pohon dan dari pangkal pohon ke posisinya diatas pohon itu. Jarak-jarak tempuh untuk individu yang termasuk kategori a-c tersebut diatas tidak diperhitungkan untuk estimasi jarakedar harian (∑ Je; lembar data).

Cara pengukuran jarak edar yang lain dengan menggunakan kisi-kisi (grids) sebagai acuan posisi hewan dan pengukuran jarak tempuhnya. Dalam hal area pengamatan dibagi-bagi atas petak-petakkan segi (2 x 2 m) kisi-kisi dengan tali rafia yang dibentangkan agak jauh dari permukaan tanah,masing-masing petakan itu ditandai (kode). Area pengamatan berikut susunan kisi-kisi digambarkan menurut skala (1:250) pada keratas millimeter. Gambar peta demikian dibuat sama sejumlah individu bekicot yang diamati. Jadi setiap lembar diperuntukkan bagi setiap individu. Gunakan papan penjepit (Clip board) untuk lembaran-lembaran itu di lapangan. Cara kedua inilah yang dalam kegiatan ini akan digunakan untuk mengestimasi luas daerah edar

Dengan bantuan tongkat berskala pengukur jarak, posisi individu setiap waktu pengamatan ditentukan berdasarkan koordinatnya dan digambarkan sebagai suatu titik pada peta titik kisi-kisi tersebut. Tiap titik ditandai dengan nomor dari urutan waktu (jam) pengamatan. Jarak tempuh tiap 2 jam dihitung dari hasil pengukuran jarak tiap titik hasil 2 pengamatan yang berurutan dan jumlah total dari jarak-jarak tempuh itu merupakan jarak edar selama 24 jam pengamatan.

 

 

 

 

  1. C.      Alat dan Bahan

ü  Daerah yang terdedah dan daerah yang ternaung

ü  Senter/lampu emergency

ü  Meteran

ü  Thermometer

ü  Patok kayu

ü  Nomor urut

ü  Timbangan Ohaus

ü  Hygrometer

ü  Alat tulis

 

  1. D.      Prosedur Kerja

ü Siapkan lahan atau daerah yang terdedah dan daerah ternaungi oleh pepohonan.

ü Siapkan 100 ekor bekicot, beri nomor urut dari 101 sampai 200. Bagi bekicot menjadi dua, masing-masing 50 ekor di daerah terdedah dan 50 ekor di daerah ternaung.

ü Siapkan patok kayu yang telah diberi nomor urut sesuai dengan jumlah bekicot. Tancapkan patok-patok tersebut pada sembarang tempat di daerah terdedah dan ternaung.

ü Timbang berat badan masing-masing bekicot. Letakkan ke-100 ekor bekicot tersebut dekat patok kayu sesuai dengan nomornya masing-masing.

ü Lakukan pengamatan setiap jam untuk suhu dan kelembapan. Hitung jarak edar dari masing-masing bekicot setiap 2 jam sekali selama 24 jam. Amati pula aktivitas bekicot setiap 2 jam sekali.

ü Setelah 24 jam berlalu, timbang kembali berat badan bekicot sebagai perbandingan dengan berat badan awal. Catat hasilnya.

ü Dokumentasikan kegiatan praktikum dan buat laporannya.

 

  1. E.       Hasil Pengamatan

 

  1. F.       Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap 100 ekor bekicot selama 24 jam ternyta banyak hal yang terjadi diantaranya adalah aktivitas bekicot, jarak edar yang semakin luas serta berat badan bekicot yang relatif bertambah. Pada 50 ekor bekicot (101-150) yang diletakkan didaerah ternaung, aktivitas bekicot di siang hari tidak begitu aktif, banyak diantaranya yang hanya terdiam dan beberapa diantaranya berpindah tempat. Sedangkan ketika malam hari, bekicot semakin aktif, ada bekicot yang mencari makan, ada pula yang terus begerak berpindah tempat-naik pohon, ada yang melakukan perkawinan, ada pula yang mendefekasikan fesesnya. Semakin malam, jarak edar bekicot semakin jauh. Umumnya bekicot mencari tempat-tempat lembap dan gelap. Oleh karenanya bekicot lebih aktif beraktifitas di malam hari, maka bekicot termasuk hewan nocturnal.

Selain mengamati aktifitas bekicot dan menghitung jarak edar, suhu dan kelembapannya pun diamati. Semakin tinggi suhu maka kelembapan udaranya semakin rendah, tetapi di daerah ternaung ada beberapa waktu saat suhu terus naik, kelembapannya konstan, ini berarti tekanan udaranya semakin rendah. Dalam hal ini, keadaan cuaca sangat mendukung dimana ketika hujan suhu tinggi dan kelembapan udara sangat rendah, sedangkan ketika cuaca terang suhu naik dan kelembapan hampir selalu kostan.

Berbeda dengan daerah terdedah, dimana suhu terus turun di malam hari dan naik lagi di siang hari, kelembapan hampir selalu naik turun dari jam ke jam. Hal ini terjadi Karena perbedaan daerah dimana daerah ternaung banyak ditumbuhi pepohonan besar dengan keadaan tanah basah yang didukung banyaknya jerami, daun dan ranting yang basah sehingga udara lebih sejuk disiang hari dan pengap di malam hari. Sedangkan daerah terdedah tidak banyak ditumbuhi pepohonan, hanya rerumputan kecil dengan tanah yang tidak begitu basah, udaranya tidak begitu pengap di malam hari.

Pada awal dan akhir kegiatan berat badan bekicot ditimbang. Ternyata ada perbedaan, dimana berat badan akhir lebih besar dari pada berat badan awal. Hal ini dapat dilihat pada table pengamatan. Hampir semua bekicot mengalami pertambahan berat badan, hal ini terjadi karena aktifitas bekicot yakni makan. Bekicot sebagai hewan nocturnal, menari makan dimalam hari. Terbukti ketika pengamatan yang dilakukan malam hari, beberapa bekicot sedang memakan dedaunan dan ada salah satunya yang memakan kertas nomor urut pada patok kayu. Selain berat badan, panjang cangkang bekicot pun diukur. Disini dapat dilihat bahwa berat badan bekicot dengan panjang cangkang tidak selalu berkorelasi. Dimana ada bekicot dengan berat badan besar tetapi cangkangnya pendek. Hal ini dapat dilihat pada table hasil pengamatan. Meskipun logikanya jika semakin panjang cangkangnya maka semakin berat beban bekicot dan semakin lambat pergerakan atau kecepatan berjalannya.

Jarak edar dipengaruhi oleh berat badan bekicot. Dimana semakin besar berat badan bekicot, maka jarak edarnya semakin pendek, dan sebaliknya. Salah satu contohnya adalah bekicot nomor 118 yang memiliki berat awal 33,7 mengalami kenaikan berat badan menjadi 34,6 dengan panjang cangkang 6,9 cm, jarak edarnya 18,675 cm sedangkan bekicot nomor 119 yang memilikiberat awal 29,4 mengalami penurunan berat badan menjadi 28,5 degan panjang cangkang 7 cm, jarak edarnya 48,07 cm.

Suhu dan kelembapan pun sangat memengaruhi jarak edar dimana semakin tiggi suhu maka semakin rendah kelembapannya dan semakin luas jarak edarnya. Hal ini terjadi karena bekicot menyukai tempat lembab sehingga mereka akan berjalan menceari tempat yang lebih lembab dan gelap untuk menapatkan makanan. Bekicot yang mengalami penurunan berat badan dikarenakan ketersediaan makanan. Bekicot yang mendapatkan makanan akan mampu bertahan hidup dan menambah berat badan dibanding bekicot yang tidak menapatkan makanan. Penurunan berat badan ini juga karena aktifitas berjalan yang cukup jauh sehingga menguras energi bekicot.

Semakin siang, bekicot semakin inaktif (tidak beraktifitas). Dalam mengadakan berbagai aktivitas tersebut hewan pun memerlukan istirahat dan tidur (inaktif). Dalam kurun waktu sehari dan dari hari ke hari, berbagai faktor dan kondisi lingkungan seperti suhu, cuaca dan iklim mengalami perubahan-perubahan serta memperlihatkan fluktuasi baik harian maupun musiman. Faktor suhu misalnya setiap pagi relatif rendah dan makin siang makin naik hingga mencapai suhu maksimum pada hari itu, dan kemudian akan berangsur turun pada sore hari dan malam harinya hingga mencapai suhu minimum. Dari berbagai variasi kondisi suhu itu sebagian merupakan kondisi yang baik atau sangat baik (preferendum), namun ada juga yang tidak baik yang beroperasi sebagai faktor pembatas. Dalam kondisi suhu yang ekstrim yang mendekati batas-batas kisaran toleransinya, hewan tidak lagi melakukan aktivitas mencari makan dan lain sebagainya, melainkan dipusatkan pada upaya-upaya bertahan dan menjaga diri agar tetap sintas.

Penyebaran jenis bekicot bergantung pada habitatnya. Populasi bekicot akan melimpah jika di musim penghujan, dan sebaliknya populasi bekicot akan sangant jarang sekali pada musim kemarau. Bekicot sangat menyukai daerah lembab, oleh karenanya jika terjadi suksesi di habitat asalnya, maka populasinya juga akan berkurang. Tetapi, seiring berjalannya waktu ketika daerah suksesi mulai pulih, maka bekicot akan segera berdatangan ke daerah tersebut. Bisa disebut juga bahwa bekicot menjadi salah satu penghuni pertama di daerah suksesi tersebut, tentu saja jika daerah tersebut banyak diguyur hujan.

Bekicot mwerupakan salah satu hewan yang berperan dalam industry. Banyak perusahaan yang memanfaatkan bekicot sebagai bahan makanan ternak seperti bebek dan angsa. Ada pula yang memanfaatkan cangkang bekicot sebagai bahan kerajinan tangan yang dapat diolah dan berdaya jual tinggi. Namun, dibeberapa negara bekicot dijadikan bahan makanan bagi manusia terutama bagian mantelnya karena mengandung protein tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. G.      Kesimpulan

Bekicot (achatina fulica) merupakan hewan nocturnal yakni hewan yang beraktifitas di malam hari. Jarak edar bekicot sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan dimana semakin tiggi suhu maka semakin rendah kelembapannya dan semakin luas jarak edarnya. Selain suhu dan kelembapan, berat badan bekicot pun memengaruhi jarak edarnya, dimana semakin besar berat badan bekicot, maka jarak edarnya semakin pendek, dan sebaliknya. Sedangkan panjang cangkang tidak begitu berpengaruh, meskipun semakin panjang cangkangnya maka semakin berat beban bekicot dan semakin lambat pergerakan atau kecepatan berjalannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: